Volatilitas mungkin Berlanjut, tapi Titik Terendah sudah Berlalu, Potensi Kenaikan Lebih Besar dari Penurunan - Ashmore
Saturday, March 29, 2025       23:22 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan terakhir Maret 2025, Kamis (27/3), sebelum libur panjang Nyepi dan Idul Fitri dengan mencatatkan kenaikan 0,59% ke 6.510, atau lebih dari 250 poin dari akhir pekan sebelumnya di posisi 6.258. Investor asing membukukan arus masuk ekuitas sebesar USD158 juta sepanjang pekan terakhir.
Mencermati perkembangan selama sepekan terakhir,  Weekly Commentary , PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa hal berikut;

Apa yang terjadi sepekan ini?
Ashmore mencatat, sektor yang berkinerja baik di bursa saham Indonesia adalah sektor Keuangan dan Teknologi yang masing-masing naik sebesar +6,58% dan +6,55%.
Kinerja terbaik dicatatkan oleh Indeks IDX30 (+7,01%) dan Indeks LQ45 (+6,14%) karena ekuitas Indonesia mengalami reli yang kuat, di sisi lain terjadi koreksi pada harga Batubara (-0,93%) dan US Treasury (-0,51%).
Ashmore juga mencatat, data AS pekan ini menunjukkan ekspansi yang tidak terduga dalam PMI gabungan, yang merupakan ekspansi terkuat tahun ini, terutama dipimpin oleh sektor jasa karena pemulihan bisnis setelah gangguan cuaca di awal tahun. Namun, data penjualan rumah baru sedikit di bawah ekspektasi.
Sementara itu, Kawasan Eropa mengalami ekspansi bulan ketiga berturut-turut dalam PMI gabungan di mana pertumbuhan telah mencapai laju tercepat sejak Agustus. Inflasi di Inggris menurun lebih dari yang diharapkan karena inflasi utama relatif tetap stabil dan sesuai dengan ekspektasi bank sentral. Sedangka inflasi inti relatif tetap tinggi tetapi juga mengalami penurunan.
Sektor jasa tumbuh signifikan dengan ekspektasi yang membaik untuk tahun mendatang. Jerman mengalami peningkatan sentimen bisnis, mencapai level tertinggi sejak Juli dan sesuai dengan ekspektasi. Kinerja Manufaktur juga lebih baik dari yang diharapkan meskipun masih mengalami kontraksi, di sisi lain pertumbuhan jasa lebih lemah dari yang diharapkan.
Di Asia, Jepang mengalami kontraksi sektor manufaktur dan jasa melebihi ekspektasi, di mana PMI manufaktur mencapai level terendah sejak Maret tahun lalu, dan jasa mengalami kontraksi pertamanya sejak Oktober. Indonesia tidak merilis data ekonomi pekan ini menjelang musim libur panjang.
Memperkuat kepercayaan Investor
Berdasarkan catatan tersebut, Ashmore menyoroti bahwa data global pada pekan ini condong ke arah PMI manufaktur dan jasa di mana kawasan Uni Eropa tampaknya stabil dengan data yang tangguh di samping meningkatnya optimisme terhadap prospek ekonomi. AS mengalami lonjakan tak terduga dalam PMI gabungan yang dipimpin oleh sektor jasa.
"Sementara itu, pasar Indonesia mengalami pergeseran sejak volatilitas minggu lalu yang pada dasarnya merupakan hasil dari puncak sentimen negatif," tulis Ashmore. Apa yang berubah sejak minggu lalu yang mendorong kenaikan pasar?
Ashmore berpendapat, sejak penghentian perdagangan IHSG minggu lalu, OJK telah melonggarkan persyaratan bagi perusahaan untuk melakukan pembelian kembali saham, yang bertindak sebagai pendorong kepercayaan jangka pendek terhadap ekuitas Indonesia.
"Namun, pendorong utama kepercayaan minggu ini adalah dari pengumuman resmi struktur organisasi Danantara di mana nama-nama terkemuka yang dikenal baik di dunia internasional seperti Ray Dalio, Jefferey Sachs, dan Chapman Taylor akan menjadi bagian dari dewan penasihat organisasi tersebut," ungkap Ashmore.
Menurut Ashmore, berita ini membantu meredakan kekhawatiran dan membawa keyakinan bahwa standar tata kelola BUMN Indonesia dapat ditingkatkan menuju standar internasional, sehingga membawa tingkat transparansi yang lebih tinggi dalam manajemen.
"Selain itu, beberapa kekhawatiran utama investor mengenai ketidakpastian politik dan komunikasi yang lebih baik mulai mereda, karena investor global sekali lagi mempertimbangkan untuk menambah eksposur ke Indonesia," papar Ashmore.
Ashmore sekali lagi mengingatkan bahwa ekuitas Indonesia terus diperdagangkan pada level yang sangat murah di mana data terbaru menunjukkan estimasi P/E forward sebesar 10,8x yang berada sekitar -2 deviasi standar dari rata-rata berdasarkan data historis dari sepuluh tahun terakhir.
"Ini bahkan lebih rendah dari level terendah pandemi sekitar 11,3x. Dengan menjaga laba ke depan tetap konstan, rerating menuju -1 standar deviasi pada 13,9x dan mean pada 17x akan menunjukkan potensi keuntungan masing-masing sebesar 28,7% dan 57,7%," sebut Ashmire.
Ashmore percaya bahwa valuasi saat ini memperhitungkan terlalu banyak sentimen negatif dan baru-baru ini kita melihat pemulihan kepercayaan diri di mana titik terendahnya mungkin sudah berlalu.
Ashmore juga melihat, investor asing baru-baru ini mulai kembali ke ekuitas Indonesia dengan aliran asing minggu ini (hingga 26 Maret) sebesar sekitar USD157,98 juta, di samping jaminan dari peringkat kredit Indonesia baru-baru ini dari Moody's sebesar Baa2 dengan prospek stabil.
Meskipun ekuitas tetap melihat aliran asing negatif YTD, obligasi melihat yang sebaliknya di mana data terbaru menunjukkan aliran positif sebesar IDR16,08 triliun. "Oleh karena itu, kami tetap optimistis pada normalisasi valuasi di samping tren ekonomi makro yang tetap stabil di Indonesia," sebut Ashmore.
Kendati volatilitas mungkin akan terus berlanjut dalam jangka pendek, namun Ashmore yakin bahwa titik terendah sudah berlalu dan potensi kenaikan lebih besar daripada risiko penurunan. "Seiring dengan terus tumbuhnya kepercayaan, siklus penilaian ulang dan normalisasi valuasi yang baik dapat bertindak sebagai katalis yang signifikan bagi pengembalian investor dalam jangka panjang." (Ashmore)


Sumber : Admin