Wall Street Variatif Jelang Kinerja Raksasa Teknologi: Dow dan S&P 500 Ceria, Nasdaq Jeblok
Tuesday, July 28, 2026       04:26 WIB
  • Wall Street ditutup variatif; Dow dan S&P 500 naik, dan Nasdaq melemah.
  • Investor menanti keputusan the Fed serta laporan keuangan raksasa teknologi.
  • Harga minyak turun, tekan saham energi; sektor teknologi tetap bergejolak.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir variatif, Senin, di tengah sikap hati-hati investor menjelang rilis laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pekan ini. Pelaku pasar juga masih mencermati prospek suku bunga di tengah kekhawatiran tekanan inflasi akibat tingginya harga minyak dalam beberapa waktu terakhir.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup naik tipis 0,02% atau 1,20 poin menjadi 7.413,18, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,51% atau 262,83 poin jadi 52.210,08, sedangkan Nasdaq Composite Index turun 0,18% atau 43,74 poin ke posisi 24.932,08, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Senin (27/7) atau Selasa (28/7) pagi WIB.
Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada laporan kinerja kuartalan empat perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, yakni Microsoft, Amazon, Meta Platforms, dan Apple. Hasil keuangan emiten tersebut dinilai akan menjadi penentu apakah reli pasar yang selama beberapa tahun terakhir ditopang optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) masih dapat berlanjut.
Sentimen terhadap sektor teknologi sebelumnya telah terguncang setelah laporan keuangan Tesla dan Alphabet pekan lalu menunjukkan belanja investasi AI yang sangat besar, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai besarnya biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan.
Di antara saham-saham unggulan, Walmart melompat 2,1%, Microsoft menguat 1,9%, dan Johnson & Johnson bertambah 1%, sehingga membantu menjaga S&P 500 tetap berada di zona hijau.
Pada perdagangan Senin, harga minyak mentah tersungkur ke level terendah dalam sepekan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington sedang melakukan "pembicaraan yang baik" dengan Iran dan melihat peluang tercapainya kesepakatan damai. Namun, Trump juga menegaskan bahwa serangan militer akan kembali dilanjutkan apabila jalur diplomasi gagal membuahkan hasil.
Pekan lalu, harga minyak sempat melonjak tajam dengan Brent menembus USD100 per barel menyusul meningkatnya serangan terhadap jalur pelayaran di Timur Tengah.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, tujuh di antaranya mencatat penguatan. Sektor consumer staples memimpin kenaikan setelah melesat 1,58%, disusul sektor teknologi informasi yang meningkat 1,25%.
Meski demikian, indeks saham semikonduktor PHLX kembali melorot 2,2%, memperpanjang tren koreksi yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Indeks tersebut kini anjlok sekitar 21% dari rekor penutupan tertingginya pada 22 Juni, meski secara kumulatif masih melambung sekitar 63% sepanjang 2026.
Tekanan pada sektor chip juga dipicu oleh debut impresif produsen semikonduktor asal China, CXMT Corp, serta laporan bahwa Beijing mulai memproduksi mesin litografi DUV buatan dalam negeri. Perkembangan tersebut dinilai menandai meningkatnya persaingan bagi industri semikonduktor Amerika Serikat.
Head of Capital Markets Research and Portfolio Construction U.S. Bank Asset Management Group, Bill Merz, mengatakan pergerakan pasar menunjukkan berlanjutnya rotasi investasi antarsektor.
"Hari ini merupakan kelanjutan dari rotasi pasar yang telah kita lihat. Sebagian reaksi pasar mungkin juga dipicu oleh kecurigaan yang semakin kuat bahwa kenaikan suku bunga mungkin akan terjadi," ujarnya.
Kejatuhan harga minyak juga menekan saham sektor energi. Occidental Petroleum merosot 4,1%, sedangkan Exxon Mobil kehilangan 1,4%.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan kebijakan moneter the Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (29/7). Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pasar memperkirakan peluang sekitar 62% bank sentral mempertahankan suku bunga, sementara peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di kisaran 38%.
Sehari setelah keputusan the Fed, perhatian investor akan beralih ke rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index periode Juni, yang merupakan indikator inflasi pilihan bank sentral AS. Data tersebut diperkirakan menjadi faktor penting dalam membentuk ekspektasi arah kebijakan suku bunga hingga akhir tahun.
Dari sisi fundamental, analis yang disurvei LSEG I/B/E/S memperkirakan laba gabungan perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 pada kuartal II-2026 tumbuh sekitar 39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan sebagian besar ekspansi ditopang perusahaan yang terkait dengan teknologi AI.
Berdasarkan data LSEG , indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 20 kali estimasi laba, sejalan dengan rata-rata historis selama 10 tahun terakhir.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun di dalam S&P 500 dengan rasio 1,9 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 30 rekor tertinggi baru dan tiga rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street relatif rendah, dengan 15,8 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan rata-rata 18,2 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Salesforce Inc (6,04%)
-3M Company (3,24%)
-Sherwin-Williams Co (3,07%)
Saham berkinerja terburuk
-Nvidia Corporation (-4,99%)
-Chevron Corp (-2,46%)
-Caterpillar Inc (-1,76%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Autodesk Inc (7,70%)
-Lamb Weston Holdings Inc (7,12%)
-Expedia Inc (7,09%)
Saham berkinerja terburuk
-CH Robinson Worldwide Inc (-6,46%)
-Advanced Micro Devices Inc (-5,18%)
-Nvidia Corporation (-4,99%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-T3 Defense Inc (201,15%)
-Baiya International Group Inc (116,06%)
-Entera Bio Ltd (91,71%)
Saham berkinerja terburuk
-C3is Inc (-80,31%)
-AiRWA Inc (-73,51%)
-MapLight Therapeutics Inc (-72,91%)

Sumber : Admin