Wall Street Tersengat Aksi Jual Saham Chip, Nasdaq Jeblok di Tengah Musim Laporan Keuangan
Friday, July 17, 2026       04:31 WIB
  • Wall Street melemah, Nasdaq turun 1,47%.
  • Aksi jual saham chip membebani pasar.
  • Investor mencermati data ekonomi dan konflik AS-Iran.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melorot, Kamis, dengan Nasdaq mencatat penurunan tajam setelah aksi jual saham semikonduktor membebani sektor teknologi. Koreksi tersebut terjadi meski data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan aktivitas domestik dan musim laporan keuangan kuartal II diawali dengan hasil yang umumnya lebih baik dari perkiraan.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 105,32 poin atau 0,20% menjadi 52.553,32, S&P 500 melemah 38,63 poin atau 0,51% ke posisi 7.533,77, sedangkan Nasdaq Composite Index anjlok 387,28 poin atau 1,47% jadi 25.881,95, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Kamis (16/7) atau Jumat (17/7) pagi WIB.
Di antara 11 sektor utama S&P 500, teknologi merosot 1,8%, dengan penurunan 4,3% pada saham semikonduktor yang sangat membebani sektor dan pasar, memperpanjang volatilitas yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi penentu utama arah pergerakan indeks Wall Street, terutama Nasdaq yang didominasi saham teknologi.
Penasihat investasi senior sekaligus ahli strategi pasar Murphy & Sylvest, Paul Nolte, mengatakan pengaruh saham chip terhadap S&P 500 kini jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Bobot saham semikonduktor dalam S&P 500 kini sudah melampaui 20%, padahal tiga hingga empat tahun lalu hanya sekitar 8%. Jika melihat sektor lain, sebenarnya kinerjanya masih cukup baik," ujar Nolte, di Elmhurst, Illinois.
Tekanan pada saham semikonduktor terjadi meski Taiwan Semiconductor Manufacturing Co ( TSMC ), produsen chip kontrak terbesar di dunia, melaporkan lonjakan laba kuartal II sebesar 77%. Namun, hasil tersebut belum mampu memenuhi ekspektasi pasar yang sudah sangat tinggi setelah sektor semikonduktor melambung hampir 70% sepanjang tahun ini. Saham TSMC yang diperdagangkan di Amerika tetap terkoreksi 2,3%.
Aksi jual paling tajam terjadi pada produsen chip memori. Saham SanDisk, Western Digital, Seagate Technology, dan Intel masing-masing kehilangan antara 5,8% hingga 12,6%.
Analis Ingalls & Snyder, Tim Ghriskey, mengatakan volatilitas ekstrem pada saham teknologi membuat investor ritel semakin khawatir terhadap fluktuasi nilai portofolio mereka.
Menurutnya, meski sektor teknologi mengalami tekanan, sejumlah sektor lain justru masih menunjukkan kinerja yang cukup baik sehingga menciptakan pergerakan pasar yang beragam.
Penurunan Dow Jones tertahan oleh kenaikan saham UnitedHealth Group sebesar 1,2% setelah perusahaan membukukan laba yang melampaui ekspektasi analis sekaligus menigkatkan proyeksi kinerja 2026. Sektor layanan kesehatan secara keseluruhan melompat 2,2%.
Sebaliknya, saham United Airlines berkurang 1,8% karena lonjakan harga minyak menekan prospek kinerja perusahaan ke depan. Sementara itu, GE Aerospace anjlok 4,1% meski perusahaan meningkatkan proyeksi laba 2026.
Pelaku pasar juga terus mencermati musim laporan keuangan kuartal II yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data LSEG , laba perusahaan anggota S&P 500 diproyeksikan tumbuh 24,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Khusus sektor teknologi, pertumbuhan laba diperkirakan mencapai 65,5%.
Di sisi makroekonomi, sejumlah data yang dirilis Kamis menunjukkan kondisi ekonomi AS masih cukup solid. Penjualan ritel inti tumbuh kuat, klaim tunjangan pengangguran menurun, dan aktivitas manufaktur di wilayah timur laut meningkat.
Namun, sektor perumahan masih memperlihatkan pelemahan. Penjualan rumah tertunda turun lebih dalam dari perkiraan, sementara sentimen pengembang perumahan memburuk akibat tingginya suku bunga pinjaman dan menurunnya daya beli calon buyer rumah.
Dari sisi geopolitik, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian investor. Kedua negara kembali saling melancarkan serangan udara, memperpanjang eskalasi konflik yang praktis mengakhiri gencatan senjata yang sempat tercapai bulan lalu. Meski demikian, keputusan Iran membebaskan seorang warga negara AS memunculkan harapan bahwa kedua pihak masih memiliki peluang untuk mencegah pecahnya perang dalam skala yang lebih luas.
Secara keseluruhan, tekanan jual masih mendominasi perdagangan. Di Bursa Efek New York ( NYSE ), jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 1,08 banding 1. Terdapat 351 saham yang mencapai harga tertinggi baru dan 170 saham yang mencapai harga terendah baru di NYSE .
Di Nasdaq, 1.817 saham menguat dan 2.979 saham melemah di mana jumlah saham yang turun melebihi yang naik dengan rasio 1,64 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 42 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 2 rekor terendah baru, sementara Nasdaq membukukan 197 rekor tertinggi baru dan 155 rekor terendah baru.
Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 17,19 miliar saham, dibandingkan rata-rata 21,19 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Nike Inc (4,21%)
-International Business Machines (3,79%)
-Amgen Inc (3,68%)
Saham berkinerja terburuk
-Goldman Sachs Group Inc (-4,91%)
-Caterpillar Inc (-4,00%)
-Nvidia Corporation (-2,40%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Abbott Laboratories (10,71%)
-JB Hunt Transport Services Inc (8,01%)
-Erie Indemnity Company (7,49%)
Saham berkinerja terburuk
-Seagate Technology PLC (-10,00%)
-Corning Incorporated (-9,15%)
-Western Digital Corporation (-9,15%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Growhub Ltd (-86,61%)
- STAK Inc (-68,08%)
-Agape ATP Corp (66,67%)
Saham berkinerja terburuk
-Nuvve Holding Corp (-61,13%)
-Sobr Safe Inc (-51,69%)
-Star Fashion Culture Holdings Ltd (-37,99%)

Sumber : Admin