- Nasdaq turun 0,64% akibat aksi jual saham chip karena investor khawatir besarnya belanja AI belum sebanding dengan potensi keuntungan.
- Investor kini menantikan laporan keuangan Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple untuk mengukur prospek investasi AI ke depan.
- Penurunan harga minyak membantu menopang Wall Street, meski konflik Timur Tengah dan kebijakan tarif baru AS masih membayangi pasar.
Ipotnews - Wall Street ditutup bervariasi pada Jumat (24/7). Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah karena investor melepas saham-saham semikonduktor di tengah kekhawatiran besarnya belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjelang rilis laporan keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar. Sementara itu, penurunan harga minyak membantu menopang pergerakan pasar meski konflik di Timur Tengah masih berlangsung.
Indeks S&P 500 hanya mencatat kenaikan tipis. Tekanan terbesar berasal dari sektor teknologi yang turun 0,88% akibat pelemahan saham-saham produsen chip.
Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple yang akan dirilis pekan depan. Namun, optimisme investor mulai berkurang setelah Alphabet mengumumkan kenaikan besar belanja modal (capital expenditure/capex) meski perusahaan masih menguras arus kasnya.
Chief Executive Officer Andersen Capital Management, Peter Andersen, mengatakan investor mulai mempertanyakan seberapa besar belanja AI yang masih harus dilakukan perusahaan teknologi sebelum benar-benar menghasilkan keuntungan.
Menurutnya, kekhawatiran investor kini bergeser dari rasa takut tertinggal dalam tren AI menjadi kekhawatiran terhadap potensi pembangunan infrastruktur AI yang berlebihan.
Intel sebelumnya memproyeksikan laba dan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi Wall Street serta mengumumkan rencana peningkatan belanja dalam dua tahun ke depan. Meski demikian, saham Intel tetap anjlok 7,9%, sejalan dengan melemahnya indeks saham semikonduktor yang turun 4,5%.
Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones menguat 235,60 poin atau 0,46% menjadi 51.947. S&P 500 naik tipis 3,68 poin atau 0,05% ke level 7.411. Sebaliknya, Nasdaq turun 161,87 poin atau 0,64% menjadi 24.975.
Secara mingguan, Dow Jones melemah 0,4% dan mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq sama-sama membukukan pelemahan untuk pekan kedua beruntun, masing-masing turun 0,6% dan 2%.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor real estat menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 2,4%. Penguatan dipimpin oleh Digital Realty Trust yang melonjak 11% setelah menaikkan proyeksi kinerja operasional sepanjang tahun.
Sektor material menjadi penyumbang kenaikan terbesar kedua dengan penguatan 1,44%, didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap saham perusahaan kertas dan kemasan. International Paper melesat 11,2% dan menjadi saham dengan kenaikan terbesar di S&P 500 pada hari itu, diikuti Smurfit Westrock yang naik 11,1%.
Sentimen positif bagi pasar juga datang dari turunnya harga minyak sekitar 3% setelah investor merealisasikan keuntungan usai reli selama lima hari berturut-turut. Selain itu, muncul kabar bahwa China mendorong dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat terhenti.
Meski demikian, ketegangan di Timur Tengah masih berlanjut. Amerika Serikat melancarkan serangan rudal ke sejumlah sasaran di Iran setelah Presiden Donald Trump mengancam akan memberikan "hukuman militer besar" terhadap Teheran dan kelompok Houthi di Yaman.
Peter Andersen menilai setiap perkembangan konflik di Timur Tengah sangat memengaruhi harga minyak, sementara perubahan harga minyak akan berdampak langsung terhadap pergerakan pasar keuangan karena memengaruhi belanja konsumen maupun korporasi.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump juga memberlakukan tarif baru sebesar 10% dan 12,5% terhadap barang dari 60 mitra dagang dengan alasan lemahnya penegakan larangan penggunaan tenaga kerja paksa. Kebijakan tersebut diterapkan setelah berakhirnya tarif global sementara sebesar 10%.
Data ekonomi yang dirilis pada Jumat menunjukkan aktivitas sektor jasa Amerika Serikat meningkat pada Juli, antara lain didorong oleh belanja masyarakat selama ajang Piala Dunia FIFA dan libur Hari Kemerdekaan. Sebaliknya, pertumbuhan sektor manufaktur melambat ke level terendah sejak Maret.
Di antara saham individual lainnya, saham SLB melonjak 11% setelah perusahaan jasa ladang minyak tersebut melaporkan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi pasar.
(reuters)
Sumber : admin