Wall Street Merah, S&P 500 Tertekan Saham Software dan Gejolak Timur Tengah
Wednesday, September 09, 2026       04:28 WIB
  • S&P 500 turun 0,58%, Nasdaq -0,32%, Dow -1,18%.
  • Saham software tertekan, Intel melonjak 9%.
  • Harga minyak naik akibat konflik Timur Tengah.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Selasa, dengan S&P 500 terpukul aksi jual saham Salesforce dan sejumlah perusahaan perangkat lunak lainnya. Ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak lebih tinggi turut membebani sentimen investor, sementara pasar menanti data inflasi yang dapat memengaruhi peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup turun 0,58% atau 45,08 poin menjadi 7.673,52, Nasdaq Composite Index melemah 0,32% atau 85,58 poin ke posisi 26.421,41, sedangkan Dow Jones Industrial Average merosot 1,18% atau 628,18 poin jadi 52.786,07, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di San Francisco, Selasa (8/9) atau Rabu (9/9) pagi WIB.
Saham Salesforce dan Intuit masing-masing merosot sekitar 4%, sementara ServiceNow anjlok 5%. Peluncuran model kecerdasan buatan (AI) terbaru OpenAI, GPT-6 Astra, pada pekan lalu, kembali memicu spekulasi bahwa teknologi AI dapat menyaingi layanan yang selama ini ditawarkan perusahaan perangkat lunak khusus.
Indeks sektor perangkat lunak dan jasa S&P 500 kehilangan 1,4%, memperpanjang pelemahan untuk hari kedua berturut-turut.
"Astra kembali memicu kekhawatiran mengenai disrupsi terhadap sektor perangkat lunak dan menghidupkan kembali tren lama yang sempat menjadi perhatian, ketika saham semikonduktor dan perusahaan yang diuntungkan dari belanja pusat data menguat, sementara saham perangkat lunak tertekan," kata Jed Ellerbroek, Manajer Portofolio Argent Capital Management.
Di sisi lain, saham Intel melambung 9% dan Qualcomm melompat 3,2% setelah keduanya mencapai kesepakatan dengan Amazon untuk mengembangkan chip AI khusus.
Investor meningkatkan spekulasi terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan the Fed 15-16 September setelah Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan pekan lalu bahwa perusahaan menambah lapangan kerja jauh lebih banyak dari perkiraan sepanjang Agustus.
Data indeks harga produsen (PPI) dan indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis pekan ini menjadi indikator penting menjelang keputusan tersebut. Pembuat kebijakan membutuhkan bukti lebih lanjut bahwa tekanan inflasi terus mereda.
Menurut FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan the Fed pekan depan mencapai 60%.
Saham Apple melorot 1,2% sehari sebelum acara yang diperkirakan menjadi ajang peluncuran produk smartphone terbaru perusahaan di bawah CEO anyar John Ternus.
Aktivitas perdagangan di bursa Wall Street tergolong tinggi dengan sekitar 15,7 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 14,9 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya.
S&P 500 melesat sekitar 12% sepanjang 2026, tetapi masih berada sekitar 1% di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 13 Agustus.
Berdasarkan data LSEG , indeks acuan tersebut kini diperdagangkan pada valuasi sekitar 19 kali proyeksi laba, menyusut dari 21 kali pada awal Juni. Penurunan valuasi tersebut terjadi seiring meningkatnya ekspektasi laba setelah musim laporan keuangan kuartal II yang kuat.
Meski prospek laba perusahaan AS semakin optimistis, konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran tetap menjadi beban bagi pasar saham.
Harga minyak mencapai level tertinggi dalam enam pekan, Selasa, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman menyerang fasilitas energi Arab Saudi dan membakar sejumlah instalasi minyak. Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa perang Timur Tengah yang telah berlangsung selama enam bulan akan meluas.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz juga melambat setelah Iran, Senin, mengancam akan melakukan pembalasan jika terjadi serangan baru dari Amerika Serikat.
"Konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai terlihat bukan lagi sebagai gangguan sementara, melainkan sebagai latar belakang jangka panjang bagi pasar," kata Jeff DerGurahian, Chief Investment Officer loanDepot.
Indeks energi S&P 500 melonjak 1%. Saham Marathon Petroleum melesat 2,4%, sedangkan Occidental Petroleum bertambah 1%.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil US Treasury yang dianggap bebas risiko dalam beberapa pekan terakhir membuat investasi saham menjadi relatif kurang menarik karena investor harus mengambil risiko tambahan.
Saham terkait aset kripto turut melemah setelah harga bitcoin tergelincir dari level USD80.000. Coinbase kehilangan 3,1%, sementara Strategy melorot 4,4%.
Di dalam indeks S&P 500, jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 2,4 berbanding 1. S&P 500 mencatat lima saham yang mencapai level tertinggi baru dan 10 saham mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq membukukan 55 saham pada level tertinggi baru dan 136 saham pada level terendah baru. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Caterpillar Inc (1,05%)
-Unitedhealth Group (0,93%)
-Chevron Corp (0,67%)
Saham berkinerja terburuk
-Amgen Inc (-10,08%)
-Salesforce Inc (-3,86%)
-Home Depot Inc (-2,29%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Intel Corporation (9,05%)
-Hewlett Packard Enterprise Co (7,78%)
-Corning Incorporated (7,56%)
Saham berkinerja terburuk
-Howmet Aerospace Inc (-10,70%)
-Amgen Inc (-10,08%)
-Stryker Corporation (-8,81%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-GT Biopharma Inc (2.074,27%)
-Cytosorbents Corp (1.857,14%)
-BioRestorative Therapies Inc (1.793,92%)
Saham berkinerja terburuk
-Lianhe Sowell Int Group (-70,67%)
-Focus Universal Inc (-65,24%)
-ReTo Eco-Solutions Inc (-49,41%)

Sumber : Admin