- Saham turun 1,41% ke Rp3.490 seiring aksi jual asing, dengan net sell bulanan Rp2,64 triliun.
- Valuasi murah, PBV 1,63 dan PER 9,34, di bawah -1 standar deviasi tiga tahun terakhir.
- RUPST 10 April akan membahas penggunaan laba 2025 untuk dividen dan laba ditahan; dividen final diusulkan Rp206,4 per saham.
Ipotnews - Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk () merosot 1,41 persen ke level Rp3.490 pada perdagangan kemarin. Pelemahan ini terjadi seiring aksi jual besar-besaran oleh investor asing.
Sepanjang hari, sebanyak 162,06 juta saham diperdagangkan dengan frekuensi 37.436 kali dan nilai transaksi Rp568,04 miliar. Investor asing mencatat net sell Rp201,9 miliar di saham .
Dalam sebulan terakhir, saham BRI bahkan anjlok 12,09 persen, dengan investor asing membukukan net sell sebesar Rp2,64 triliun, seperti dilansir Investor, Jumat (27/3).
Dari sisi valuasi, saham BRI semakin murah. Rasio price to book value (PBV) tercatat 1,63 kali, berada di bawah -1 standard deviation PBV tiga tahun terakhir sebesar 1,86. Sementara price earning ratio (PER) sebesar 9,34 kali, juga lebih rendah dibanding -1 standard deviation tiga tahun terakhir yang tercatat 10,09 kali.
CGS International Sekuritas memproyeksikan target saham pada perdagangan hari ini di kisaran Rp3.547-3.603, dengan level support pertama di Rp3.457 dan support kedua Rp3.423.
Selain pergerakan saham, akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 April 2026. Salah satu agendanya adalah persetujuan penggunaan laba bersih Tahun Buku 2025.
Manajemen BRI menyatakan, laba bersih 2025 akan digunakan untuk dividen dan laba ditahan. Perseroan sebelumnya telah mendistribusikan dividen interim Rp137 per saham atau maksimum Rp20,63 triliun pada 15 Januari 2025.
Dengan persetujuan RUPST, BRI menetapkan dividen total indikatif minimal Rp343,4 per lembar untuk Tahun Buku 2024, berdasarkan total 151.559.001.604 saham yang beredar. Dengan mempertimbangkan dividen interim yang telah dibayarkan, dividen final yang diusulkan adalah Rp206,4 per saham, setara total Rp31,41 triliun. (AI)
Sumber : Investor