- Usai libur panjang, indeks dibuka di 6.210 dan terus naik ke 6.220, dengan mayoritas sektor berada di zona hijau
- Harga komoditas naik tipis, namun tensi geopolitik Iran, agenda FOMC Juni, serta pelemahan rupiah ke level 17.883 menjadi faktor utama yang memengaruhi kehati-hatian investor.
- Analis IPOT David Kurniawan merekomendasikan , , dan dengan status Buy untuk menghadapi volatilitas pasar.
Ipotnews - Usai libur panjang, pada hari ini, Selasa (2/6), IHSG dibuka menguat di level 6.210 atau naik 83 poin dari sesi penutupan perdagangan terakhir yang melemah tipis 0,05 persen ke level 6.127.
Kemudian pada pukul 09.05 WIB, indeks semakin kuat dengan naik 1,52 persen atau 93 poin ke level 6.220. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.226 dan terendah di level 6.183 yang tetap berada di zona hijau. Arah positif IHSG terjadi manakala pasar utama Asia pada pagi ini tertekan di area merah.
Sebanyak 290 emiten yang bergerak menguat, 271 emiten melemah dan 398 emiten stabil. Frekuensi transaksi mencapai 203,8 ribu kali dengan nilai Rp2,58 triliun serta kapitalisasi pasar mencapai Rp10,94 triliun.
Tujuh sektor menguat dan empat sektor lainnya melemah. Sektor yang melemah yaitu kesehatan -0,14 persen ke level 1.527, transportasi -1,24 persen menjadi 1.789, konsumer non primer -0,36 persen menjadi 668, keuangan -0,02 persen ke level 1.286.
Lalu untuk sektor yang menguat yaitu industri 1,24 persen menjadi 1.673, bahan baku 1,28 persen menjadi 1.678, teknologi 0,43 persen menjadi 6.989, energi 2,58 persen ke level 2.987.
Kemudian, konsumer primer 1,97 persen menjadi 949, sektor infrastruktur 2,03 persen menjadi 1.948 dan properti 0,36 persen menjadi 806.
Mengulas perkembangan bursa komoditas terakhir, harga minyak naik tipis 0,25 persen ke level USD88,9 per barel, batubara menguat 2,6 persen menjadi USD140,3 per metrik ton, sementara emas bergerak naik 0,01 persen ke USD4.484 per troy ounce. Pergerakan ini memberi sinyal positif namun tetap menimbulkan kewaspadaan di pasar saham Indonesia.
Selama Mei, harga minyak sempat terkoreksi hingga 16 persen. Namun kabar terbaru bahwa Iran menolak gencatan senjata dan berencana melakukan serangan kembali meningkatkan tensi geopolitik. Kondisi ini membuat pelaku pasar menimbang risiko lebih hati-hati.
"Memang belum ada kejelasan terkait kesepakatan damai meski di bulan Mei 2026 tensi geopolitik antara Iran dan AS relatif mereda," ujar David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ) dalam Live IG.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada agenda FOMC pertengahan Juni. Potensi kenaikan suku bunga global di bawah pimpinan baru The Fed menjadi isu krusial.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah juga menjadi sorotan. Pada perdagangan terakhir, rupiah berada di level 17.883 dan berpotensi menembus 18.000. Investor menunggu langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
"Harapannya kebijakan pemerintah bisa menjaga stabilitas, at least jangan sampai melemah, sideways saja sudah bagus," jelas David.
Untuk rekomendasi saham hari ini, David menyarankan tiga emiten unggulan. Pertama, dengan rekomendasi Buy, entry level Rp17.000, target Rp18.525, dan stop loss Rp16.275.
Kedua, dengan rekomendasi Buy, entry level Rp1.495, target Rp1.600, dan stop loss Rp1.450.
Ketiga, dengan rekomendasi Buy, entry level Rp7.100, target Rp7.525, dan stop loss Rp6.875.(Marjudin/AI)
Sumber : Admin