- Rupiah menguat tipis ke Rp16.832/USD pada awal pekan, didorong data inflasi AS Januari 2026 yang lebih rendah dari perkiraan.
- Inflasi AS melambat: CPI naik 0,2% (mom) dan 2,4% (yoy), di bawah proyeksi 0,3% dan 2,5%, sehingga melemahkan dolar AS.
- Penguatan rupiah terbatas karena sentimen domestik masih negatif; diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.750-Rp18.900/USD.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar di awal pekan ini berpotensi menguat tipis, setelah data inflasi Amerika Serikat Januari 2026 lebih lemah dari perkiraan.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (16/2) pukul 09.12 WIB, rupiah sedang diperdagangkan menguat 4 poin atau 0,02% ke level Rp16.832 per dolar AS, dibandingkan penutupan Jumat (13/2) di Rp16.836 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan kurs rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah data inflasi AS yg lebih rendah dari perkiraan. "Namun penguatan diperkirakan terbatas mengingat sentimen domestik umumnya masih negatif dan pelemahan dolar juga tidak terlalu besar," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Jumat (13/2) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) meningkat 0,2% secara bulanan (mom) pada Januari 2026 dan 2,4% secara tahunan (yoy).
Angka realisasi ini lebih rendah ketimbang proyeksi para ekonom yang memperkirakan kenaikan harga konsumen sebesar 0,3% (mom) dan kenaikan tahunan sebesar 2,5% (yoy).
"Range kurs rupiah diperkirakan di kisaran Rp16.750 - Rp18.900 per dolar AS," ujar Lukman.
(Adhitya/AI)
Sumber : admin