Minyak Lampaui USD100, Bursa Eropa Tersungkur ke Level Terendah Lebih dari Sebulan
Thursday, September 10, 2026       03:27 WIB
  • STOXX 600 jatuh 1,41% akibat minyak tembus USD100.
  • Bursa utama Eropa melemah, energi menguat.
  • Investor khawatir inflasi dan kenaikan suku bunga.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa tersungkur ke level terendah dalam lebih dari sebulan, Rabu, setelah harga minyak mentah melonjak menembus level psikologis USD100 per barel. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup merosot 1,41% atau 9,19 poin menjadi 640,41, sekaligus mencatat level terendah sejak akhir Juli, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Rabu (9/9) atau Kamis (10/9) dini hari WIB.
Hampir seluruh bursa saham utama di kawasan Eropa juga diperdagangkan melemah tajam. Indeks DAX Jerman menyusut 1,66% atau 431,18 poin jadi 25.576,45, FTSE 100 Inggris melorot 1,31% atau 141,60 poin ke posisi 10.670,06 dan CAC 40 Prancis terkoreksi 1,94% atau 161,31 poin menjadi 8.156,67.
Bursa Finlandia menjadi salah satu pengecualian. Indeks saham unggulannya menguat 0,8% dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga bulan.
Saham Fortum menjadi penguat terbesar di STOXX 600 dengan lonjakan 15,8% setelah perusahaan energi asal Finlandia tersebut menandatangani perjanjian pembelian listrik jangka panjang dengan Google. Raksasa teknologi itu mengatakan akan menginvestasikan sedikitnya 13 miliar euro (USD15,1 miliar) untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Finlandia selama dua tahun ke depan.
Harga kontrak berjangka Brent menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Juli. Kenaikan tersebut terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat menyerang kapal tanker dalam gelombang serangan terhadap pelayaran terbesar sejak perang dimulai, sehingga meningkatkan risiko gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Energi menjadi satu-satunya sektor yang berhasil mencatat penguatan, yakni 0,3%. Sementara itu, seluruh sektor utama lainnya berada di zona merah. Indeks volatilitas Euro STOXX juga melesat 2,17 poin ke level tertinggi dalam sepekan.
Managing Director UBS, Kiran Ganesh, mengatakan lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi, yang pada akhirnya memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga dan mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi.
"Jadi, minyak merupakan penggerak utama, dan dampaknya terhadap ekuitas semakin negatif dalam beberapa hari terakhir," ujar Ganesh.
Meningkatnya volatilitas membuat investor cenderung enggan menambah eksposur terhadap aset berisiko. Pelaku pasar kini menantikan serangkaian keputusan bank sentral dan rilis data ekonomi penting yang berpotensi menentukan ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan biaya pinjaman.
Imbal hasil obligasi pemerintah zona euro juga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir sehari sebelum pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB). Pelaku pasar kini memperhitungkan dua kali kenaikan suku bunga pada 2026 dan suku bunga mencapai 3,1% pada akhir 2027.
Ganesh memperingatkan adanya risiko ECB merespons kenaikan harga minyak secara berlebihan. Kebijakan tersebut, menurut dia, justru dapat memberikan dampak yang lebih negatif terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Pasar secara luas memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga pada Kamis, berdasarkan data yang dihimpun LSEG . Sementara itu, data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini juga diprediksi menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan pasar.
Di sisi lain, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengatakan pemerintah berencana mengurangi, tetapi tidak menghapus, pungutan tambahan pajak perusahaan yang diberlakukan secara khusus kepada perusahaan-perusahaan berukuran sangat besar dalam rancangan anggaran 2027. Dalam surat kepada para eksekutif perusahaan, Lecornu menjanjikan stabilitas perpajakan guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah saham perusahaan juga mengalami tekanan. Saham Auto1 Group SE turun 6,4% setelah Christian Wallentin mengundurkan diri dari posisi Chief Financial Officer (CFO) perusahaan asal Jerman yang bergerak di platform daring jual-beli mobil bekas tersebut.
Saham Inditex, pemilik merek Zara, juga anjlok 3,6% setelah peritel fesyen asal Spanyol tersebut melaporkan laba kuartal II yang lebih rendah dari perkiraan pasar. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin