- Bursa Eropa turun karena harapan damai Timur Tengah memudar dan risiko energi meningkat.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga ECB menekan pasar.
- Beberapa saham anjlok tajam di tengah ketidakpastian konflik.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa menghentikan tren penguatan selama tiga hari berturut-turut pada Kamis, setelah harapan akan meredanya konflik di Timur Tengah dalam waktu dekat mulai memudar. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk meninjau kembali ekspektasi terhadap arah suku bunga ke depan.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melorot 1,13% atau 6,65 poin menjadi 580,84, dengan saham pertambangan dan pertahanan menjadi salah satu penekan terbesar, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (26/3) atau Jumat (27/3) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman berkurang 1,50% atau 344,11 poin jadi 22.612,97, FTSE 100 Inggris berkurang 1,33% atau 134,67 menjadi 9.972,17 dan CAC Prancis melemah 0,98% atau 77,24 poin ke posisi 7.769,31.
Sentimen negatif dipicu pernyataan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters yang menyebut proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang sebagai "sepihak dan tidak adil". Pernyataan ini memperkecil peluang tercapainya de-eskalasi dalam waktu dekat.
Pergerakan saham sepanjang pekan ini mengindikasikan bahwa pasar ekuitas berpotensi tetap berada di bawah tekanan selama konflik yang memasuki minggu keempat masih berlangsung. Harapan akan berakhirnya konflik secara cepat terbukti terlalu optimistis, sementara investor juga meragukan bahwa gencatan senjata sekalipun dapat segera memulihkan aliran energi ke level sebelum perang.
Eropa menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap lonjakan harga minyak mentah, terutama karena penutupan Selat Hormuz yang memperburuk kekhawatiran inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi kebijakan moneter, anggota dewan pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), Joachim Nagel, menyatakan kenaikan suku bunga pada April merupakan "salah satu opsi". Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Presiden ECB, Christine Lagarde, menegaskan bank sentral siap bertindak dalam setiap pertemuan guna menjaga inflasi tetap pada target 2%.
Kenaikan imbal hasil obligasi jangka pendek Eropa turut memberikan tekanan tambahan pada pasar saham. Data yang dihimpun LSEG menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada April mencapai 71%.
Sektor industri dan perbankan, yang sangat sensitif terhadap perlambatan ekonomi, masing-masing mencatat penurunan sekitar 2%. Manajer Portofolio Templeton Global Equity Group, Craig Cameron, menyatakan tantangan utama bagi investor saat ini adalah memahami durasi konflik dan arah akhir yang dapat membuka jalan menuju resolusi.
Analis Deutsche Bank juga menilai potensi eskalasi lanjutan masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Sejak konflik dimulai, STOXX 600 anjlok 8,4% dan kini mendekati fase koreksi, yakni ketika indeks jatuh 10% dari level penutupan tertingginya. Tekanan dari suku bunga yang lebih tinggi dinilai menjadi salah satu faktor utama pelemahan pasar dalam beberapa pekan terakhir, ungkap Cameron.
Pada level saham individual, perusahaan tambang Boliden ambles 20% setelah memperingatkan bahwa laba inti kuartalan akan terdampak aktivitas seismik yang tidak normal di tambang Garpenberg.
Kenaikan harga minyak juga menekan sektor maskapai, dengan Lufthansa melorot 1%.
Di sisi lain, peritel fesyen Polandia LPP melejit 12,7% setelah mencatatkan kinerja kuartal keempat melampaui ekspektasi analis.
Sementara itu, peritel fesyen Swedia H&M menyusut 2,2% akibat penjualan kuartalan yang tidak memenuhi ekspektasi. Berbanding terbalik, peritel asal Inggris Next menguat 4,2% setelah sedikit menaikkan proyeksi laba tahunan.
Perusahaan layanan pembayaran Edenred terpuruk 17,2% setelah otoritas persaingan Italia meluncurkan penyelidikan terkait dugaan penyalahgunaan posisi dominan di pasar voucher makan karyawan di negara tersebut. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin