- Yen menguat 0,45% menjadi 153,69 per dolar dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.
- Dolar AS menguat terhadap euro dan franc Swiss setelah inflasi AS meningkat dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Imbal hasil Treasury AS 2 tahun naik ke 4,63%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Ipotnews - Dolar AS menguat tipis terhadap euro dan franc Swiss pada perdagangan Jumat (11/9), setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan harga konsumen. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pekan depan.
Dolar awalnya menguat setelah data inflasi dirilis. Namun, sentimen investor tetap rapuh karena perang Iran yang semakin meningkat mendorong harga minyak naik. Kondisi tersebut membatasi penguatan dolar AS sehingga pergerakannya relatif terbatas terhadap mata uang utama lainnya.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 0,4% pada Agustus, setelah hanya naik 0,1% pada Juli. Sementara itu, inflasi inti (Core CPI) meningkat 2,4% secara tahunan pada Agustus, setelah naik 2,5% pada Juli.
Euro melemah 0,13% menjadi US$1,15950 dan berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan. Sementara itu, dolar menguat 0,47% menjadi 0,817 terhadap franc Swiss dan bersiap mencatat kenaikan mingguan ketiga berturut-turut terhadap mata uang Swiss tersebut.
"Hal utama yang kami perhatikan adalah inflasi inti, yang tampaknya mengalami percepatan," kata Juan Perez, Direktur Perdagangan di MonexUSA. "Hal tersebut cenderung membantu dolar AS menguat terhadap semua mata uang karena meningkatkan probabilitas atau peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya," ujarnya.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 86%, dibandingkan sekitar 72% sehari sebelumnya, berdasarkan perangkat CME FedWatch.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun. Imbal hasil obligasi AS bertenor dua tahun, yang biasanya bergerak mengikuti ekspektasi suku bunga The Fed, naik 7,75 basis poin menjadi 4,63%.
Harga Minyak Tetap di Atas US$100
Harga minyak turun, tetapi masih bertahan di atas US$100 per barel. Sementara itu, harga diesel berada di level tertinggi sepanjang masa. Kondisi tersebut mengindikasikan inflasi berpotensi tetap tinggi dan meluas.
Harga minyak mentah Brent naik sekitar 8% sepanjang pekan setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih kota pelabuhan Mocha di Yaman dan bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju pulau-pulau strategis.
Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup turun 2,81% menjadi US$104,61 per barel.
Indeks dolar AS yang mengukur nilai dolar terhadap sejumlah mata uang, termasuk yen dan euro, relatif datar di level 99,12. Indeks tersebut berada di jalur untuk turun 0,16% sepanjang pekan, sekaligus menjadi penurunan mingguan kedua berturut-turut.
Yen Menguat
Yen berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut terhadap dolar AS. Yen terakhir menguat 0,45% menjadi 153,69 per dolar AS.
Bank of Japan diperkirakan menaikkan suku bunga pada pekan depan dan berpotensi memberi sinyal mengenai percepatan pengetatan kebijakan moneter di masa mendatang jika tekanan harga yang meningkat memperbesar risiko inflasi melampaui targetnya, menurut empat sumber yang mengetahui pemikiran bank sentral tersebut.
Mata uang Jepang semakin menguat setelah data menunjukkan inflasi grosir Jepang tetap tinggi pada Agustus. Data tersebut memperkuat alasan bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga pada bulan ini. Euro melemah 0,59% terhadap yen menjadi 178,22.
(reuters)
Sumber : admin