AI News - Emas dunia menguat 1,07% menjadi US$4.402 per ons pada Rabu 9 September 2026, dipicu pelemahan dolar AS; pasar kini menantikan data inflasi PPI dan CPI AS pekan ini untuk menilai kemungkinan Fed menaikkan suku bunga, dengan probabilitas sekitar 60%.
Poin Penting
- Harga emas spot naik 1,07% menjadi US$4.402 per ons (Rabu 9 September 2026).
- Dolar AS berada di level terendah dua minggu terakhir, mendekati level terendah historis.
- Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat mencapai tertinggi sejak November 2023 sebelum kembali turun.
- Peluang The Fed menaikkan suku bunga pada rapat berikutnya diperkirakan sekitar 60 % oleh CME FedWatch Tool.
- Harga perak spot naik 2,32% menjadi US$67,28 per ons; platinum naik 4,45% menjadi US$1.900,3 per ons; palladium naik 0,23% menjadi US$1.356,72 per ons.
Mengapa Harga Emas Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS?
Menurut laporan IDXC hannel, emas menguat karena dolar AS melemah, sehingga logam mulia yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Dolar berada di sekitar level terendah dua minggu terakhir, menandakan tekanan pasar yang memberi dorongan pada aset safe-haven. Harga spot naik 1,07% menjadi US$4.402 per ons, sementara futures Desember meningkat 0,19% ke US$4.447,25 per ons sebagaimana tercatat Investor.id. Penurunan dolar juga terkait dengan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang masih dipertimbangkan untuk menahan inflasi, sehingga mendukung permintaan emas. Bagi investor, penguatan ini menandakan perlindungan nilai terhadap volatilitas mata uang dan potensi inflasi yang masih tinggi.
Apa Implikasi Data Inflasi AS Terhadap Kebijakan The Fed dan Harga Emas?
Investor.id melaporkan bahwa data inflasi AS yang akan dirilis pada Kamis (PPI) dan Jumat (CPI) menjadi kunci utama penentuan arah kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 60 % bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Kenaikan suku bunga biasanya menambah tekanan pada emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil. Sebaliknya, ekspektasi pelonggaran moneter atau tidak adanya kenaikan suku bunga dapat memperkuat emas lebih lanjut, terutama bila dolar tetap lemah. Oleh karena itu, para trader memantau data PPI pada 10 September 2026 dan CPI pada 11 September 2026 untuk menilai tekanan harga dan sinyal kebijakan moneter.
Bagaimana Kenaikan Harga Minyak dan Yield Obligasi Mempengaruhi Sentimen Emas?
Seperti dikutip oleh StoneX dalam laporan IDXC hannel, kenaikan harga minyak dunia melewati US$100 per barel meningkatkan tekanan inflasi lewat gangguan pada transportasi dan rantai pasok, yang selanjutnya mendorong kenaikan yield obligasi. Imbal hasil 10-tahun AS sempat mencapai level tertinggi sejak November 2023 sebelum kembali turun, menandakan volatilitas pasar obligasi yang dapat memengaruhi daya tarik emas. Kenaikan yield biasanya membuat investasi berbunga lebih menarik dibandingkan emas, sehingga dapat menahan laju kenaikan harga emas meski dolar lemah. Kombinasi antara pelemahan dolar, aliran dana ke obligasi, dan ekspektasi kebijakan Fed menciptakan dinamika yang membuat harga emas sensitif terhadap perkembangan minyak dan pasar obligasi.
Sumber : AI News