Bursa Pagi: Asia Dibuka Melaju, IHSG Masih Berisiko Melemah
Wednesday, July 29, 2026       08:28 WIB

  • Bursa saham Asia dibuka menguat mengikuti penguatan Wall Street dan Eropa, meski harga minyak kembali melonjak akibat ketegangan AS-Iran.
  • Investor menanti keputusan suku bunga Federal Reserve, dengan peluang hampir 70% suku bunga dipertahankan.
  • IHSG diperkirakan masih berisiko melemah karena tekanan rupiah dan sikap hati-hati investor.

Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (29/7), dibuka menguat, melanjutkan tren pergerakan indeks acuan di bursa saham utama Eropa dan Wall Street yang cenderung menguat di tengah harapan meredanya konflik AS-Iran.
Namun kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate pagi ini kembali melonjak sekitar 4% ke kisaran USD82 per barel. Laman CNBC melaporkan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan melalui media sosial bahwa pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps ( IRGC ) meluncurkan "beberapa rudal balistik dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah." Menurut CENTCOM, seluruh rudal tersebut berhasil dicegat.
Investor menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve beserta konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh yang dijadwalkan berlangsung Rabu sore waktu setempat. Berdasarkan FedWatch Tool milik CME, pelaku pasar memperkirakan peluang hampir 70% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200 Australia sebesar 0,83%. Indeks berlanjut melaju 1,14% ke 9.050 pada pukul8:20 WIB.
Indeks Kospi Korea Selatan dibuka melonjak 1,95%, sementara indeks Kosdaq melaju 1,5%. Kospi berlanjut menanjak 1,51% ke level 6.114,49.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,14% di posisi 62.449,68, setelah dibuka naik 0,52%, dan Topix menguat 0,37%.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong terakhir diperdagangkan di level 25.480, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 25.310,85.
Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini diperkirakan masih berisiko menghadapi tekanan pelemahan, seiring nilai tukar rupiah yang masih tertekan. IHSG ditutup melorot 0,89% ke USD6.130,59 pada sesi perdagangan kemarin. Harga ETF saham Indonesia,  iShares MSCI Indonesia ETF    ( EIDO ), di New York Stocks Exchange juga melorot 0,87% ke USD12,04.
Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG masih akan terbatas dengan bias melemah. Posisi rupiah yang masih berada di kisaran Rp18.100 per dolar AS berpotensi memengaruhi arus modal asing dan sentimen investor, membebani indeks saham.
Secara teknikal, indeks akan bergerak di kisaran support di kisaran 6.100-6.050 dan resistance di 6.000-6.250. Area support dinilai sebagai level penting untuk menjaga peluang rebound jangka pendek.
Analis Indo Premier berpendapat, IHSG dan Rupiah melemah pada sesi perdagangan kemarin, seiring sikap hati-hati investor menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve dan masih mencermati transisi kepemimpinan di Bank Indonesia.
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi ditutup variatif, didorong penguatan Boeing dan Coca-Cola. Investor menunggu hasil rapat suku bunga The Fed, Rabu di AS. Suku bunga yang tetap tinggi dapat membebani perusahaan berbasis AI yang semakin bergantung pada utang untuk ekspansi investasi. Presiden AS Donald Trump,PM Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Gedung Putih, menumbuhkan harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina.
Coca-Cola dan Boeing melompat 5% dan 4,8%. Microsoft dan Apple menguat 1,1% dan 1%. Amazon melemah 0,2%. Saham chip tertekan jelang laporan keuangan raksasa teknologi. Indeks semikonduktor PHLX ambles 4,5%. Indeks sektor teknologi S&P 500 merosot 1,4%. Sektor kesehatan (+2,4%) memimpin penguatan, diikuti sektor  consumer staples  (+2%) dan sektor material (+1,7%). Corning terjungkal 12%. IQVIA Holdings melejit 14%.
  • S&P 500 menguat 0,21% menjadi 7.428,78.
  • Dow Jones Industrial Average melaju 1,03% ke 52.747,32.
  • Nasdaq Composite terkoreksi 0,22% menjadi 24.876,91.

Bursa saham utama Eropa tadi malam berakhir menguat berkat sektor konsumsi. Investor mencermati persaingan AI dan musim laporan keuangan teknologi. Pasar menanti keputusan suku bunga Federal Reserve pekan ini.
Indeks STOXX 600 naik 0,35% menjadi 646,89 didorong kinerja kuat Unilever (+8%) dan emiten sektor konsumsi. Indeks sektor makanan dan minuman meloncat 2,8%. Indeks barang pribadi dan rumah tangga melonjak 2,3%. Sektor barang mewah menanjak 1,5% didukung kenaikan penjualan LVMH . Mercedes-Benz melompat 2,9%. Sektor energi drop 2,4% seiring penurunan harga minyak dunia. Barclays ambles 4,8%. Bechtle melejit 14,8%.
  • FTSE 100 London meningkat 0,83% ke 10.871,02.
  • DAX Jerman naik 0,41% menjadi 25.464,01.
  • CAC Prancis bertambah 0,63% ke 8.458,78.

Nilai Tukar Dolar AS
Kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia pagi tadi melemah, namun tetap dekat level tertinggi satu bulan. Pasar menanti keputusan suku bunga The Fed pekan ini. Ekspektasi suku bunga tinggi masih menopang penguatan dolar. Imbal hasil US Treasury juga masih bertahan di dekat level tertinggi. Investor meningkatkan posisi beli dolar jelang rapat The Fed.
Peluang kenaikan suku bunga September diperkirakan tetap tinggi. Pasar juga menunggu hasil rapat kebijakan bank sentral Inggris dan Jepang, serta potensi intervensi yen. Kedua bank sentral diprediksi mempertahankan suku bunga, di tengah tekanan inflasi yang meningkat. Euro dan poundsterling menguat, sedangkan yen relatif stabil. Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,2% menjadi 101,35.
Kurs spot dolar

Currency

Value

Change

% Change

Time (ET)

Euro (EUR-USD)

1.1385

0.00

0.02%

7:17 PM

Yen (USD-JPY)

163.87

0.02

0.01%

7:17 PM

Poundsterling (GBP-USD)

1.3284

0.00

0.04%

7:17 PM

Rupiah (USD-IDR)

18083

74.00

0.41%

3:59 AM

Yuan (USD-CNY)

6.7700

0.00

0.07%

2:59 PM

Sumber : Bloomberg.com, 28/7/2026 (ET)
Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea dini hari tadi berakhir ambles sekitar 5%, seiring harapan meredanya konflik AS-Iran. Pasar tetap mewaspadai gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Laut Merah. Serangan Houthi masih mengganggu pelayaran dan distribusi minyak global. Harga minyak telah terkoreksi sekitar 16% dalam tiga hari terakhir.
Iran membantah tengah berupaya melanjutkan perundingan dengan AS, membantah pernyataan Trump yang menyebut perundingan berjalan baik. Iran juga menolak proposal Oman yang didukung negara-negara Teluk untuk mengelola Selat Hormuz dan mengajukan alternatif berupa pengaturan sementara. Prospek damai Rusia-Ukraina berpotensi menambah pasokan minyak dunia. OPEC + dikabarkan mempertimbangkan menunda rencana peningkatan produksi.
  • Harga Brent berjangka drop 4,8% ke USD84,09 per barel.
  • Harga WTI berjangka anjlok 4,1% ke USD79,26 per barel.

Harga emas dini hari tadi ditutup turun, ke level terendah dalam sepekan. Investor menanti keputusan suku bunga The Fed. Ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi dan Indeks dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan, meredupkan daya tarik emas. Sikap hawkish The Fed di tengah kenaikan harga minyak yang dapat memicu inflasi, juga membebani harga emas. Pasar menunggu rilis data inflasi PCE AS, pekan ini.
Commerzbank memangkas proyeksi harga emas akhir tahun sebesar USD300 menjadi USD4.500 per ounce. Tanpa perubahan ekspektasi suku bunga, kecil kemungkinan investor kembali ke produk ETF berbasis emas maupun terjadi pemulihan harga emas yang signifikan. Harga logam mulia lainnya; perak spot anjlok 2,2% ke USD57,11 per ounce, platinum merosot 1% ke USD1.605,80, dan paladium drop 2,3% ke USD1.261,92.
  • Harga emas spot merosot 1,2% ke posisi USD4.026,49 per ounce.
  • Harga emas berjangka AS melorot 0,9% ke USD4.038,70 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)