Bursa Eropa Tertekan Reli Minyak, Novartis Ambruk 10,9% Usai Gagal Uji Obat
Wednesday, September 09, 2026       03:36 WIB
  • STOXX 600 turun 0,05% ke 649,60 akibat ketegangan Timur Tengah.
  • Novartis anjlok 10,9% setelah obat eksperimental gagal uji klinis.
  • Saham energi dan tambang menguat seiring lonjakan harga minyak dan tembaga.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa bergerak nyaris datar, Selasa, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak yang membuat investor bersikap hati-hati. Saham Novartis menjadi sorotan setelah perusahaan farmasi Swiss tersebut mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah akibat kegagalan kedua dalam pengembangan obatnya.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun tipis 0,05% atau 0,30 poin menjadi 649,60, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Selasa (8/9) atau Rabu (9/9) dini hari WIB.
Indeks acuan Swiss merosot 1,6%, terutama tertekan oleh saham Novartis yang anjlok 10,9%. Sementara, bursa regional utama berakhir variatif. Indeks DAX Jerman naik tipis 1,10 poin jadi 26.007,63, dan CAC 40 Prancis menguat 0,14% atau 11,83 poin ke posisi 8.317,98, sedangkan FTSE 100 Inggris melemah 0,10% atau 10,47 poin menjadi 10.811,66.
Novartis menjadi saham dengan penurunan terdalam di STOXX 600 setelah perusahaan menyatakan obat eksperimental untuk gangguan yang menyebabkan penyusutan otot gagal dalam uji klinis tahap akhir. Pengumuman tersebut terjadi sehari setelah Novartis mengungkapkan bahwa obat eksperimental untuk kolesterol juga gagal dalam studi tahap akhir yang menjadi perhatian investor.
Sektor energi menguat 0,6% di tengah harga kontrak berjangka minyak mentah Brent bertahan di sekitar USD98 per barel. Harga minyak melesat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman menyerang fasilitas energi dan sejumlah kota di Arab Saudi.
Serangan tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke wilayah lain di Timur Tengah dan mengganggu pasokan bahan bakar ke pasar global.
Saham pertambangan juga menguat seiring kenaikan harga tembaga. Boliden, Antofagasta dan KGHM melonjak antara 4,6% hingga 6,3%, sementara indeks pertambangan Eropa secara keseluruhan melompat 2%.
Dari sisi ekonomi, ekspor Jerman secara tak terduga merosot sepanjang Juli. Pelemahan pengiriman barang ke negara-negara Uni Eropa dan China menunjukkan masih rapuhnya pemulihan ekonomi berbasis perdagangan di negara dengan perekonomian terbesar Eropa tersebut.
Kenaikan harga minyak turut menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi ini berkontribusi terhadap aksi jual di pasar obligasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral mungkin perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Investor secara luas memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Kamis. Meski pembuat kebijakan memberi sinyal terbatasnya ruang untuk pengetatan lebih lanjut, pasar masih memperhitungkan satu kenaikan tambahan hingga akhir tahun dan satu kenaikan lagi pada 2027.
Analis ING menilai kenaikan suku bunga setelah September akan membawa kebijakan moneter ECB dari tahap "asuransi" menuju wilayah yang benar-benar restriktif. Menurut mereka, pergeseran tersebut belum memperoleh dukungan yang cukup dari data ekonomi.
Pasar juga dinilai berpotensi meremehkan risiko pengetatan moneter yang berlebihan serta dampaknya terhadap pasar obligasi Eropa.
Perhatian investor selanjutnya beralih ke data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi penting setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil lebih solid dari perkiraan dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga bulan ini.
Di antara saham yang bergerak signifikan, Kion Group melambung 6,8% setelah Citi menaikkan rekomendasi saham produsen forklift asal Jerman tersebut menjadi "buy" dari sebelumnya "neutral". Citi menilai industri kendaraan pengangkut material berpotensi memasuki titik balik siklus. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin