- STOXX 600 turun 1,18% dipicu sinyal hawkish ECB dan lonjakan harga minyak.
- Pasar mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga ECB pada September.
- Sektor energi naik, sementara Nestle dan STMicroelectronics menekan pasar.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa tersungkur, Kamis, setelah investor merespons kombinasi laporan keuangan perusahaan yang mengecewakan, komentar bernada hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB), serta melonjaknya harga minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 yang mencakup saham-saham utama di kawasan ditutup merosot 1,18% atau 7,66 poin menjad 639,27, setelah mencatat penurunan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (23/7) atau Jumat (24/7) dini hari WIB.
Sepanjang bulan ini, indeks tersebut kesulitan keluar dari rentang perdagangan yang sempit karena kekhawatiran inflasi kembali menguat seiring memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman berkurang 1,56% atau 392,29 poin jadi 24.763,12, FTSE 100 Inggris melemah 0,73% atau 77,80 poin ke posisi 10.639,17 dan CAC Prancis kehilangan 1,64% atau 138,80 poin menjadi 8.299,09.
Meski bank sentral memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan Kamis, pasar menilai pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Kepala Ekonom Zona Euro Pantheon Macroeconomics, Claus Vistesen, mengatakan ECB kini menunjukkan kecenderungan yang semakin hawkish. Menurutnya, meskipun bank sentral akan terus mengevaluasi berbagai data ekonomi hingga September, arah keputusan kebijakan moneter sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dan perkembangan situasi di Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah harga minyak Brent menembus level psikologis USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Lonjakan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, sehingga memicu kekhawatiran baru mengenai gangguan pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak memberikan sentimen positif bagi sektor energi Eropa, melesat 1,54%, dan menjadi salah satu sektor yang mampu mencatatkan kinerja positif di tengah pelemahan pasar yang lebih luas.
Sebaliknya, sektor makanan dan minuman menjadi salah satu penekan utama pasar setelah indeks sektoralnya melorot 4,1%. Pelemahan tersebut dipicu oleh anjloknya saham Nestle hampir 8%, yang menjadi penurunan harian terbesar perusahaan tersebut sejak 1989.
Nestle memang meningkatkan proyeksi pertumbuhan penjualan organik sepanjang tahun ini. Namun, perusahaan juga mengumumkan rencana untuk menjual sebagian bisnis air minum dan minuman premium miliknya kepada Platinum Equity, yang memicu respons negatif dari investor.
Sektor teknologi juga mengalami tekanan berat dengan indeks sektoral terkoreksi 2,9%. Produsen chip STMicroelectronics memimpin pelemahan setelah sahamnya ambles 17,7% menyusul proyeksi pendapatan kuartal ketiga yang sedikit berada di bawah ekspektasi pasar.
Saham perusahaan peralatan semikonduktor asal Belanda, BE Semiconductor, juga kehilangan 7,3% setelah merilis hasil kinerja kuartal kedua.
Di tengah tekanan sektor teknologi, produsen material semikonduktor asal Prancis, Soitec, menjadi pengecualian dengan meroket hampir 22% setelah pendapatan kuartalannya melampaui perkiraan analis.
Sentimen terhadap saham-saham teknologi saat ini cenderung beragam. Investor mulai mempertanyakan prospek keuntungan jangka panjang dari belanja besar-besaran kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat seperti Alphabet. Sementara itu, perusahaan-perusahaan yang selama ini dianggap diuntungkan oleh investasi AI juga menghadapi tantangan berupa valuasi saham yang dinilai terlalu tinggi.
Manajer Portofolio Multi-Aset Allspring Global Investments, Rushabh Amin, mengatakan pasar kini semakin kritis terhadap sumber pertumbuhan pendapatan masa depan perusahaan teknologi.
"Investor mulai mempertanyakan dari mana pertumbuhan pendapatan di masa depan akan berasal. Dua belas bulan lalu perhatian pasar tertuju pada perusahaan hyperscaler dan pertanyaan yang sama juga muncul. Kini giliran sektor semikonduktor yang menghadapi tekanan," katanya.
Menurut Amin, bahkan perusahaan yang mampu membukukan laba yang cukup baik tetap menghadapi hambatan akibat melemahnya sentimen pasar dan penyesuaian posisi investasi oleh investor.
Di luar sektor teknologi, saham raksasa energi TotalEnergies melompat 2,5% setelah melaporkan laba kuartalan terkuat dalam hampir tiga tahun terakhir. Kinerja tersebut didorong oleh kenaikan harga minyak dan kuatnya margin bisnis pengilangan.
Maskapai berbiaya rendah easyJet juga menguat 2,7% meski laba kuartal ketiganya anjlok sekitar 70% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, grup kehutanan Finlandia Stora Enso mengalami tekanan setelah melaporkan laba operasional kuartalan yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Saham perusahaan tersebut menyusut sekitar 8,5% pada perdagangan Kamis. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin