- STOXX 600 naik 0,35% dipimpin reli saham konsumsi, dengan Unilever melesat 8%.
- Mercedes-Benz naik 2,9% dan Bechtle 14,8%, sedangkan Barclays turun 4,8% dan Saipem anjlok 8,9%.
- Pasar menanti keputusan the Fed yang diperkirakan menahan suku bunga.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa menguat untuk hari ketiga berturut-turut pada perdagangan Selasa, didorong kinerja solid emiten sektor barang konsumsi, terutama Unilever, yang berhasil mengangkat sentimen investor di tengah bergulirnya musim laporan keuangan kuartalan.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik 0,35% atau 2,27 poin menjadi 646,89, ditopang membaiknya sentimen terhadap saham sektor konsumsi, baik barang kebutuhan pokok (consumer staples) maupun barang konsumsi non-primer (consumer discretionary), setelah sejumlah perusahaan membukukan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pasar, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Selasa (28/7) atau Rabu (29/7) dini hari WIB.
Indeks sektor makanan dan minuman STOXX 600 melambung 2,8%, sedangkan indeks barang pribadi dan rumah tangga melonjak 2,3%, menjadikannya dua sektor dengan kenaikan terbesar pada perdagangan hari itu.
Saham Unilever melesat 8%, mencatat kenaikan harian terbesar dalam empat tahun terakhir, setelah produsen barang konsumsi tersebut melaporkan pertumbuhan penjualan kuartal II di atas perkiraan analis. Reli saham Unilever turut mendorong indeks FTSE 100 London menguat 0,83% atau 89,27 poin menjadi 10.871,02. Bursa regional utama lainnya juga menghijau, dengan DAX Jerman naik 0,41% atau 102,98 ke posisi 25.464,01 dan CAC Prancis meningkat 0,63% atau 52,72 poin menjadi 8.458,78.
Sementara itu, saham Mercedes-Benz melompat 2,9% setelah produsen otomotif asal Jerman tersebut melaporkan lonjakan laba operasional kuartalan sebesar 22%.
Sektor barang mewah juga memperoleh sentimen positif setelah LVMH mengumumkan kenaikan penjualan kuartalan 3%. Meski saham perusahaan ditutup relatif datar, indeks saham sektor barang mewah Eropa tetap naik 1,5%.
Kepala Riset Ekonomi dan Investasi ICG di London, Nicholas Brooks, menilai fundamental ekonomi global masih cukup kuat. Menurutnya, pertumbuhan laba perusahaan secara keseluruhan di Amerika Serikat maupun Eropa sejauh ini juga lebih baik dari perkiraan pasar.
Di sisi lain, sektor teknologi masih menjadi perhatian investor setelah laporan The Information menyebutkan China mulai memproduksi mesin litografi immersion deep-ultraviolet (DUV) hasil pengembangan dalam negeri. Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait meningkatnya persaingan dalam industri kecerdasan buatan (AI).
Sentimen itu muncul menjelang pekan yang dipenuhi laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat, yang dipandang penting untuk mengukur apakah momentum pertumbuhan sektor AI masih dapat berlanjut.
Di kelompok saham individual lainnya, Barclays merosot 4,8% meski membukukan kenaikan laba semester pertama sebesar 17% yang melampaui proyeksi analis. Pelaku pasar menilai kinerja bisnis perdagangan saham (equities) bank tersebut masih berada di bawah ekspektasi yang sebelumnya terdorong oleh hasil sangat kuat dari sejumlah bank investasi Wall Street.
Saham kontraktor migas Italia, Saipem, anjlok 8,9% setelah perusahaan memangkas proyeksi laba inti (core earnings) tahun 2026 akibat meningkatnya biaya yang berkaitan dengan krisis di Timur Tengah.
Sebaliknya, saham perusahaan teknologi informasi asal Jerman, Bechtle, melejit 14,8% dan menjadi penguat terbesar di STOXX 600 setelah perusahaan menaikkan proyeksi kinerja sepanjang tahun.
Energi menjadi sektor dengan pelemahan terdalam, melorot 2,4%, seiring berlanjutnya penurunan harga minyak. Harga minyak terkoreksi karena meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran, setelah Washington menghentikan serangan militernya pada akhir pekan lalu.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada pernyataan kebijakan Chairman Federal Reserve Kevin Warsh yang dijadwalkan pada Rabu. Bank sentral Amerika Serikat diprediksi mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini. Namun, berdasarkan data yang dihimpun LSEG , pasar masih memperkirakan adanya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin