- Bursa Eropa terjerembab akibat konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak.
- Rebound sementara terjadi, tapi pasar masih rapuh.
- Inflasi naik, sektor energi jadi satu-satunya yang menguat.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa mengakhiri sesi Selasa dengan penurunan bulanan paling tajam dalam hampir empat tahun terakhir, mencerminkan besarnya dampak konflik di Timur Tengah terhadap stabilitas pasar keuangan kawasan tersebut.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 tercatat merosot 8% sepanjang Maret, mengakhiri tren kenaikan selama delapan bulan berturut-turut sekaligus menjadi kinerja bulanan terburuk sejak Juni 2022. Secara kuartalan, indeks tersebut juga melorot 1,5% pada tiga bulan pertama tahun ini, menandai penurunan pertama dalam lima kuartal terakhir.
Gejolak pasar dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz--salah satu rute energi paling vital di dunia. Gangguan ini mendorong lonjakan harga minyak mentah dan memperburuk kekhawatiran inflasi di Eropa yang sangat bergantung pada impor energi.
Di tengah situasi tersebut, laporan dari Wall Street Journal menyebutkan Presiden Donald Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meski Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka. Pernyataan ini mendorong STOXX 600 menguat 0,41% atau 2,41 poin menjadi 583,14 pada akhir perdagangan, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Selasa (31/3) atau Rabu (1/4) dini hari WIB.
Meski demikian, analis memperingatkan bahwa penguatan tersebut rentan berbalik arah jika tidak ada gencatan senjata yang nyata. Fiona Cincotta, analis City Index, menyebut pasar saat ini berada dalam kondisi jenuh jual, sehingga sedikit sentimen positif dapat memicu rebound sementara.
Namun, dia menekankan bahwa optimisme serupa telah beberapa kali muncul dalam beberapa pekan terakhir, hanya untuk kembali memudar seiring ketidakpastian yang berlanjut.
Seluruh bursa utama di kawasan Eropa memang mencatat kenaikan harian, tetapi tetap membukukan kerugian secara bulanan. Saham Swiss menjadi salah satu pengecualian dengan kenaikan 0,9% setelah UBS Securities menaikkan peringkat indeks itu menjadi "menarik" karena valuasi yang lebih rendah setelah kejatuhan lebih dari 10% dari puncaknya.
Pada akhir sesi Selasa, Indeks DAX Jerman menguat 0,52% atau 117,16 poin jadi 22.680,04, FTSE 100 Inggris bertambah 0,48% atau 48,49 poin menjadi 10.176,45 dan CAC Prancis meningkat 0,57% atau 44,49 poin ke posisi 7.816,94.
Dari sisi makroekonomi, inflasi di zona euro meningkat menjadi 2,5% secara tahunan pada Maret, berdasarkan estimasi awal dari Uni Eropa. Meski sedikit di bawah ekspektasi, angka tersebut memicu kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan akan semakin menekan harga.
Bert Colijn, Kepala Ekonom ING, menyebut kenaikan harga bahan bakar menjadi faktor utama inflasi. Dia juga memperingatkan adanya risiko kenaikan harga pangan dan barang akibat kelangkaan pupuk serta gangguan rantai pasok yang dipicu konflik.
Di tingkat emiten, saham UBS melesat 4% setelah laporan Financial Times menyebutkan anggota parlemen Swiss akan melonggarkan aturan modal bagi bank tersebut. Kabar ini turut mengangkat sektor jasa keuangan hingga melompat 1,7%.
Sebaliknya, saham Unilever anjlok 7,3% setelah perusahaan mengumumkan pembicaraan lanjutan untuk menggabungkan bisnis makanannya dengan produsen rempah McCormick. Dewan pekerja Eropa Unilever bahkan memperingatkan potensi aksi serikat jika perlindungan tenaga kerja tidak dijamin.
Sementara itu, saham Alstom melambung 5,4% setelah memenangkan kontrak sistem multinasional senilai USD800 juta di kawasan AMECA.
Di tengah tekanan luas pada pasar, sektor energi menjadi satu-satunya yang mencatat kinerja positif. Indeks energi naik 0,5% pada Selasa dan meroket 14,6% sepanjang Maret, didorong lonjakan harga minyak mentah yang mencapai level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin