- Bursa Eropa turun tajam setelah ECB menahan suku bunga tanpa sinyal kebijakan lanjutan.
- Penurunan dipicu kinerja emiten yang variatif, terutama sektor perbankan, tambang, dan energi.
- Sektor teknologi menguat ditopang optimisme belanja modal dan sentimen positif AI.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa merosot, Kamis, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga tanpa memberikan sinyal arah kebijakan selanjutnya. Pelemahan juga dipicu laporan kinerja keuangan yang variatif dari sejumlah perusahaan besar, termasuk Shell dan BNP Paribas.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melorot 1,05 persen atau 6,47 poin menjadi 611,65, mencatat penurunan terdalam dalam lebih dari dua tahun, setelah mengakhiri perdagangan pada level tertinggi sepanjang masa sehari sebelumnya, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (5/2) atau Jumat (6/2) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman melemah 0,46 persen atau 111,98 poin jadi 24.491,06, FTSE 100 Inggris menyusut 0,90 persen atau 93,12 poin ke 10.309,22 dan CAC Prancis berkurang 0,29 persen atau 23,99 poin menjadi 8.238,17.
ECB mempertahankan suku bunga di posisi 2 persen sesuai ekspektasi pasar, sekaligus memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter kemungkinan akan tetap stabil dalam beberapa waktu ke depan. Presiden ECB Christine Lagarde menyatakan inflasi saat ini berada pada kondisi yang baik. Namun, inflasi inti di kawasan Uni Eropa tercatat melambat lebih cepat dari perkiraan, diperparah oleh penguatan euro.
Menurut Kiran Ganesh, analis UBS Global Wealth Management, ECB meremehkan kekhawatiran atas penguatan euro terhadap dolar AS karena kondisi tersebut bukan hal baru dan telah diperhitungkan dalam proyeksi ekonomi bank sentral.
Sektor properti dan konstruksi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga masing-masing turun 0,8 persen dan 0,4 persen. Saham Novo Nordisk anjlok 7,9 persen setelah laporan Reuters menyebutkan Hims & Hers Health meluncurkan versi tiruan pil Wegovy dengan harga perkenalan USD49 per bulan.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi laporan keuangan sektor perbankan dan emiten sumber daya alam, di tengah ketidakpastian geopolitik dan kondisi makroekonomi global yang belum jelas.
Saham sektor perbankan merosot 3,5 persen dan menjadi penekan terbesar indeks acuan. Saham BBVA jatuh 8,8 persen setelah kenaikan biaya operasional menutupi pertumbuhan laba bersih kuartalan yang lebih tinggi. Sebaliknya, saham BNP Paribas melonjak 1,2 persen setelah bank terbesar di zona euro berdasarkan aset tersebut membukukan laba kuartal keempat melampaui ekspektasi pasar.
Sektor pertambangan juga kehilangan 3,4 persen. Saham Aurubis turun 2,9 persen setelah produsen tembaga terbesar di Eropa itu melaporkan laba operasional inti kuartalan di bawah perkiraan analis.
Saham Glencore merosot 7 persen, sementara saham Rio Tinto yang tercatat di London kehilangan 2,6 persen setelah perusahaan tersebut menyatakan tidak lagi melanjutkan pembicaraan akuisisi dengan Glencore yang sebelumnya berpotensi membentuk perusahaan tambang terbesar di dunia.
Di sektor energi, saham Shell menyusut 3,4 persen setelah laba bersih kuartal keempat gagal memenuhi ekspektasi pasar.
Di tengah tekanan pasar, saham sektor teknologi kawasan justru menguat 0,9 persen, pulih dari tekanan sebelumnya setelah pembaruan terbaru Anthropic AI yang sempat membebani perusahaan perangkat lunak. Sentimen positif juga datang dari hasil kinerja Alphabet yang kuat serta proyeksi lonjakan belanja modal pada 2026.
Craig Cameron, Manajer Portofolio Templeton Global Equity Group, mengatakan perusahaan yang menikmati peningkatan belanja modal (capex), khususnya di sektor teknologi dan semikonduktor, berpotensi terus menjadi pemenang di pasar.
Sementara itu, saham perusahaan pertahanan Rheinmetall ambles 6,5 persen seiring munculnya tanda-tanda meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin