Bisnis Syariah BBTN Melesat, Aset BSN Capai Rp79 Triliun Dan Pembiayaan Sentuh Rp60 Triliun
Tuesday, July 28, 2026       10:41 WIB
  • Bank Syariah Nasional (BSN), anak usaha , mencatat total aset Rp79 triliun, pembiayaan Rp60 triliun, dan total simpanan Rp62 triliun pada semester I-2026, mencerminkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
  • Portofolio pembiayaan masih didominasi sektor perumahan sebesar Rp57,56 triliun (96,6% dari total), dengan pembiayaan nonperumahan melonjak 152,4% YoY menjadi Rp2,05 triliun.
  • Kualitas aset terus membaik, ditandai NPF gross turun menjadi 2,7% dan rasio special mentioned financing (SMF) menurun menjadi 6,7% pada Juni 2026.

Ipotnews - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (IDX: ) terus memperkuat bisnis syariahnya melalui entitas anak PT Bank Syariah Nasional (BSN), yang mencatatkan pertumbuhan aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga (DPK) hingga semester I-2026, diiringi dengan perbaikan kualitas aset.
Berdasarkan materi paparan kinerja semester I-2026 yang dipublikasikan pada 16 Juli 2026 di situs resmi perseroan dan dipantau Ipotnews pada Selasa (28/7), total aset BSN meningkat menjadi Rp79 triliun pada akhir Juni 2026, naik dari Rp76 triliun pada Maret 2026 dan Rp73 triliun pada akhir 2025.
Pertumbuhan tersebut didukung ekspansi pembiayaan yang berkelanjutan hingga mencapai Rp60 triliun pada semester I-2026, dibandingkan Rp57 triliun pada Maret 2026 dan Rp55 triliun pada akhir tahun lalu.
Dari sisi pendanaan, total simpanan tumbuh menjadi Rp62 triliun pada Juni 2026, meningkat dari Rp59 triliun pada Maret 2026. Rasio dana murah () tetap terjaga tinggi di level 60,9%, sementara net interest margin (NIM) berada di kisaran 4%.
Komposisi pembiayaan masih didominasi pembiayaan perumahan sebesar Rp57,56 triliun atau sekitar 96,6% dari total pembiayaan. Segmen tersebut tumbuh 20,8% secara tahunan (year on year/YoY). Di dalamnya, pembiayaan KPR subsidi mencapai Rp37,19 triliun atau meningkat 24,5% YoY, sedangkan KPR nonsubsidi naik 18,2% YoY menjadi Rp18,36 triliun.
Sementara itu, pembiayaan nonperumahan menunjukkan pertumbuhan paling tinggi. Nilainya meningkat menjadi Rp2,05 triliun pada Juni 2026, melonjak 152,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang pembiayaan konsumer yang tumbuh 116,4% YoY menjadi Rp775 miliar dan pembiayaan komersial yang meningkat 180,7% YoY menjadi Rp1,28 triliun.
Pada sisi penghimpunan dana, total DPK mencapai Rp61,61 triliun atau naik 11,5% YoY. Dana murah () tumbuh 15,5% menjadi Rp37,54 triliun, terutama ditopang kenaikan giro sebesar 26,7% menjadi Rp29,92 triliun. Sementara itu, deposito berjangka meningkat 5,9% menjadi Rp24,07 triliun.
Kualitas aset juga tetap terjaga. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross tercatat 2,7% pada Juni 2026, membaik dibandingkan 2,9% pada Juni 2025. Rasio NPF untuk pembiayaan nonperumahan turun signifikan menjadi 0,7% dari 3,6% setahun sebelumnya, sedangkan NPF pembiayaan perumahan membaik menjadi 2,8% dari 2,9%.
Di sisi lain, rasio special mentioned financing (SMF) atau pembiayaan dalam perhatian khusus turun menjadi 6,7% dari 7,7% pada Juni 2025. Penurunan tersebut menunjukkan perbaikan kualitas portofolio pembiayaan, meskipun rasio cakupan pencadangan (NPF coverage) tercatat sebesar 85,8% pada akhir Juni 2026.
Seperti diketahui, BSN lahir dari hasil spin off Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang berhasil mengakuisisi Bank Victoria Syariah.
(Adhitya/AI)

Sumber : admin
An error occurred.