- mencatat realisasi Kredit Program Perumahan (KPP) nasional mencapai Rp2,97 triliun hingga 18 Mei 2026, terdiri dari KPP Supply Rp1,98 triliun dan KPP Demand Rp987 miliar
- Realisasi tersebut telah mencapai 33% dari target tahunan KPP Supply Rp6 triliun dan 25% dari target KPP Demand Rp4 triliun, sejalan dengan strategi transformasi Beyond Mortgage BTN
- BTN mempercepat penyaluran lewat akad massal di Surabaya dan Lampung, sekaligus memperkuat ekosistem pembiayaan melalui Bale Properti dan program BTN Housingpreneur
Ipotnews - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk/BTN () mencatat realisasi Kredit Program Perumahan (KPP) nasional mencapai Rp2,97 triliun hingga 18 Mei 2026. Pencapaian ini sejalan dengan langkah BTN untuk terus memperkuat perannya dalam ekosistem perumahan nasional.
Menurut Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, percepatan penyaluran KPP dari sisi pasokan maupun permintaan sebagai bagian dari strategi transformasi Beyond Mortgage untuk menghadirkan ekosistem pembiayaan perumahan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dia menegaskan, keseimbangan antara sisi supply dan demand menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perumahan nasional.
"Kami di BTN menyadari bahwa penyediaan hunian layak bagi masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya dari satu sisi. KPP Supply hadir untuk memperkuat kapasitas pengembang dalam membangun proyek perumahan, sementara KPP Demand memastikan masyarakat memiliki akses pembiayaan yang terjangkau untuk memiliki rumah guna mendukung usaha," kata Nixon dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/5).
Lebih lanjut dia menyebutkan, melakukan sinergi kedua aspek tersebut untuk memastikan ekosistem perumahan nasional bertumbuh lebih sehat, berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Nixon merincikan, nilai realisasi KPP mencapai Rp2,97 triliun tersebut terdiri atas KPP Supply sebesar Rp1,98 triliun dan KPP Demand senilai Rp987 miliar. Dari sisi target tahunan, realisasi tersebut masing-masing telah mencapai 33 persen dari kuota KPP Supply 2026 sebesar Rp6 triliun dan sebesar 25 persen dari kuota KPP Demand 2026 yang senilai Rp4 triliun.
Sebagai bagian dari akselerasi penyaluran KPP, juga aktif menggelar akad massal KPP di berbagai daerah. Pada 3 Mei 2026 di Surabaya, BTN memfasilitasi proses closing bagi 245 debitur KPP dengan total nilai pembiayaan mencapai Rp305,26 miliar. Dari jumlah ini, sisi supply terdiri atas 66 pengembang senilai Rp171 miliar, enam kontraktor sebesar Rp30 miliar dan 10 toko bangunan sebesar Rp50 miliar. Sementara itu dari sisi demand, tercatat sebanyak 163 debitur dengan nilai pembiayaan mencapai Rp53 miliar.
Selanjutnya, pada 7 Mei 2026 di Lampung, BTN kembali menggelar akad massal KPP dengan realisasi pembiayaan KPP Supply sebesar Rp162,6 miliar untuk 100 debitur dan KPP Demand sebesar Rp4,6 miliar. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya untuk mempercepat penyerapan pembiayaan sekaligus memperkuat keterhubungan antara sisi pengembang dan konsumen di daerah.
Pada sisi pasokan secara nasional, KPP Supply BTN mencatatkan pencairan sebesar Rp1,98 triliun dengan dukungan 178 debitur skala UMKM maupun wilayah. Wilayah Jawa Barat menjadi salah satu kontributor terbesar dalam penyaluran tersebut, disusul wilayah Sulampua yang meliputi Sulawesi, Maluku dan Papua. Kinerja tersebut mencerminkan komitmen dalam mendukung percepatan pembangunan perumahan secara lebih merata di berbagai daerah.
Dari sisi permintaan masyarakat, KPP Demand BTN berhasil menjangkau 781 debitur secara nasional dengan nilai pencairan mencapai Rp987 miliar. Wilayah Jabanus (Jawa-Bali-Nusa Tenggara) menjadi wilayah dengan penyaluran terbesar, menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan rumah yang terjangkau.
Nixon menambahkan, integrasi antara KPP Supply dan KPP Demand menjadi salah satu strategi penting BTN untuk memperkuat penyerapan pembiayaan perumahan di lapangan. "Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang terjangkau harus diimbangi dengan kesiapan pasokan dari pengembang. Karena itu BTN terus melakukan penyelarasan agar proyek-proyek yang didukung melalui KPP Supply dapat terhubung langsung dengan basis konsumen KPP Demand kami," tuturnya.
Dia menambahkan, juga terus memperkuat ekosistem pembiayaan perumahan melalui berbagai inisiatif digital dan pengembangan ekosistem, di antaranya melalui Bale Properti dan penguatan kapabilitas mitra pengembang lewat program BTN Housingpreneur. Melalui berbagai langkah tersebut, optimistis dapat menjaga pertumbuhan penyaluran KPP hingga akhir tahun sekaligus mendukung target pembiayaan perumahan nasional dan memperluas inklusi finansial.(Budi/AI)
Sumber : Admin